PBSI menilai tekanan yang dihadapi pemain muda merupakan konsekuensi wajar dalam perjalanan prestasi. Saat atlet mulai meraih hasil, ekspektasi publik otomatis meningkat dan beban mental pun ikut bertambah. Perubahan terbesar yang dirasakan atlet muda bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga mental dan strategi. Dari status pemain pelapis hingga menjadi andalan, tuntutan untuk tampil konsisten menjadi semakin berat. PBSI menyebut tekanan tersebut telah diantisipasi sejak awal. Program pembinaan dirancang agar atlet siap menghadapi ekspektasi tinggi tanpa kehilangan fokus pada proses pengembangan diri. Persiapan maksimal menjadi kunci utama yang terus ditanamkan. Meski persiapan tidak menjamin hasil sempurna, setidaknya dapat meminimalkan risiko performa buruk di lapangan. Pola pikir ini terus ditanamkan kepada atlet muda. Beban pasti ada, namun yang terpenting adalah bagaimana atlet menyikapinya dengan sikap profesional dan mental yang kuat. PBSI optimistis dengan kualitas mental generasi muda saat ini. Keyakinan tersebut muncul karena para atlet dinilai memiliki tujuan jelas dan karakter juang yang solid. Namun demikian, tantangan tetap ada dalam hal konsistensi. Tidak semua atlet memiliki stabilitas performa yang sama, sehingga diperlukan pengaturan program yang tepat sasaran. PBSI menyesuaikan program latihan dan turnamen sesuai karakter masing-masing atlet. Langkah ini dilakukan agar performa bisa dijaga, khususnya pada turnamen penting seperti Indonesia Masters. Strategi pengiriman atlet ke turnamen awal musim juga menjadi perhatian. PBSI memilih tidak mengirim seluruh pemain demi menjaga kesiapan dan fokus atlet di ajang tuan rumah. Ke depan, strategi tersebut akan terus dievaluasi. PBSI membuka kemungkinan perubahan kebijakan seiring semakin banyaknya atlet Indonesia yang masuk kategori pemain elit dan siap tampil di turnamen level 750 hingga 1000, dengan target prestasi yang lebih maksimal.
02:14
05:47
02:32
02:39
03:14
01:54
05:05
03:39
05:00
02:27