Presiden Kelompok Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal membongkar tiga penyebab pemutusan hubungan kerja, alias PHK marak terjadi saat ini. Ia sekaligus menggugurkan pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang juga dikenal sebagai Kang Dedi Mulyadi (KDM), PHK terjadi akibat upah yang tinggi. Said lantas membuka data jumlah tenaga kerja ter-PHK pada 2025 milik Kementerian Ketenagakerjaan. Dari total 88.519 orang kena PHK, Jawa Barat dan Jawa Tengah mengambil jumlah terbesar dengan masing-masing 18.815 orang dan 14.700 orang. "Yang saya ingin tegaskan, bukan karena upah. Dedi Mulyadi selalu bilang upah yang tinggi akan mengakibatkan PHK. PHK di Jawa Barat itu upah yang daerahnya rendah. Jadi tesis Dedi Mulyadi itu gugur, enggak nyambung antara upah dan PHK itu," ujarnya dalam sesi teleconference, Senin (26/1/2026). "Begitu pula PHK tertinggi setelah Jawa Barat adalah Jawa Tengah. Jawa Tengah itu adalah daerah yang upahnya paling rendah se-Indonesia, tapi PHK-nya paling banyak setelah Jawa Barat," dia menegaskan. Menurut dia, ada tiga faktor terjadinya PHK. Pertama gara-gara daya beli masyarakat turun. Akibatnya, pengeluaran masyarakat di dalam roda perputaran ekonomi turut berkurang. "Orang akan membeli barang sesuai yang penting-penting saja. Akibatnya karena barang yang dibeli berkurang, produksi berkurang. Karena produksi berkurang ya otomatis terjadi PHK di pabrik-pabrik," ungkap dia.
02:09
08:19
06:49
06:49
04:17
00:42
01:11
07:14
01:04
04:10