logo
Video Terbaru
  • HOME
  • NEWS
  • SHOWBIZ
  • BOLA
  • HEALTH
  • BISNIS
  • CITIZEN6
  • GLOBAL
  • TEKNO
  • LIFESTYLE
  • OTOMOTIF
  • REGIONAL
logo
  • Home
  • News
  • Showbiz
  • Bola
  • Health
  • Bisnis
  • Citizen6
  • Global
  • Tekno
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Regional
logoTrustworthyIFCN
KontakRedaksiDisclaimerKode EtikPedoman Media SiberSitemapForm PengaduanTentang KamiKarirMetode Cek FaktaHak Jawab dan Koreksi Berita
  • Liputan6
  • Merdeka
  • Bola.com
  • Bola.net
  • Fimela
  • Kapanlagi.com
  • Brilio
Connect with us

Copyright © 2026 Liputan6.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.

VIDEO: Prihatin Sampah Impor, Siswi SMPN Kirim Surat pada 3 Pemimpin Negara Maju

News27 Januari 2020
L
OlehLiputan6
Diperbaharui 23 Sep 2025, 00:36 WIB
Diterbitkan 27 Jan 2020, 23:53 WIB
Copy Link
Batalkan

Prihatin dengan banyaknya limbah sampah impor, membuat seorang pelajar kelas 7 SMP 12 Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mengirim surat ke Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, dan Kedubes Jerman. Dalam surat berbahasa Inggris tersebut, Aeshnina Azzahra protes sampah impor yang dikirim ke Indonesia, dan mendesak agar sampah-sampah ditarik lagi ke negara masing-masing. Aeshnina Azzahra, siswi SMP Negeri 12 Wringinanom kelas 7, Gresik, Jawa Timur, mendadak viral dan terkenal, usai mengirim surat ke sejumlah pimpinan negara maju. Siswi berusia 12 tahun, yang akrab dipanggil Nina itu, mengirim surat berbahasa Inggris ke Presiden Amerika Serikat Donald Trump, via pos, pada Juli 2019 lalu. Kemudian surat kedua dikirim ke Perdana Menteri Australia Scott Morrison, dan Kanselir Jerman Angela Markel. Kedua surat tersebut dikirim langsung oleh Nina ke Kedutaan Besar Australia, dan Kedutaan Besar Jerman yang ada di Jakarta, pada 21 dan 22 Januari 2020. Nina, warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, ini mengaku, sengaja mengirim surat kepada tiga pimpinan negara maju tersebut, karena prihatin sampah impor masuk ke Indonesia. Sampah impor tersebut, didatangkan oleh sebuah perusahaan kertas, ironisnya, sampah impor tersebut sudah puluhan tahun masuk ke Indonesia, termasuk di Wringinanom Gresik. Oleh perusahaan, sampah impor terutama plastik yang disusupkan ke dalam kertas bekas itu, kemudian dijadikan bahan bakar pengolahan tahu. Nina mengaku prihatin, karena asap dari polusi tersebut berdampak dan membahayakan kesehatan warga Wringinanom. Karena itu, dalam isi suratnya, Nina meminta agar pimpinan-pimpinan negara itu menarik kembali sampahnya yang dikirim ke Indonesia. Pelajar peduli lingkungan hidup ini berharap, agar tiga negara maju tersebut, menanggapi positif suratnya, dan bisa meminimalisir, atau bahkan menghentikan pengiriman sampah limbah plastik ke Indonesia. Berikut videonya pada Liputan6, 24 Januari 2020

  • gresik
  • sampah impor
  • Berita Surabaya
  • biro surabaya
  • wringinanom
  • limbah sampah impor
  • pemimpin negara maju
  • news09:47
    Usil Purbaya Guyon 'Senggol' Kasad Maruli Bikin Ngakak: Kalau Punya Utang Bosnya Datang...
    News40 menit yang lalu
  • news17:14
    Ekspresi Purbaya Beri Kode saat Dasco Telepon Prabowo, Ada Keputusan Penting TKD Aceh
    News43 menit yang lalu
  • news06:17
    Banjir Rendam Mangga Dua Raya, Bus Transjakarta Tak Bisa Melintas
    News3 jam yang lalu
  • news07:49
    Nekat Terjang Banjir Jakarta, Kendaraan Mogok!
    News3 jam yang lalu
  • news04:38
    Banjir Terjang Jalanan Jakarta, Lalu Lintas Pademangan Lumpuh
    News3 jam yang lalu
  • news08:17
    Kasus Resbob Kian Serius, Pacar Tersangka Ikut Diperiksa!
    News4 jam yang lalu
  • news08:10
    KPK Tak Lagi Perlihatkan Tersangka Korupsi ke Publik, Kenapa?
    News5 jam yang lalu
  • news06:41
    Detik Detik Truk Mogok Diseruduk Commuterline di Jakarta
    News5 jam yang lalu
  • news01:49
    Warga Teriak Masya Allah Ngebor Air Keluar Minyak Mirip Pertalite, BPBD: Diuji Keluar Api
    News3 hari yang lalu
  • news06:52
    Kronologi Eks-Menag Yaqut Cholil Jadi Tersangka KPK | Longsor Sampah di Filipina
    News3 hari yang lalu