Target Asian Games: Akuatik Indonesia Pecahkan Paceklik 26 Tahun!

Bola2026-03-01 11:27:00
OlehMuhammad Iqbal Ichsan
Diperbaharui 01 Mar 2026, 11:27 WIB
Diterbitkan01 Mar 2026, 11:27 WIB

Setelah menunjukkan konsistensi di level Asia Tenggara, fokus Akuatik Indonesia kini diarahkan ke panggung yang lebih tinggi: Asian Games. Targetnya jelas dan tegas, mengakhiri penantian panjang tanpa medali yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Ketua Umum Anindya Bakrie menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk mencetak sejarah baru.

“Yang paling penting itu bagaimana kita bisa memecahkan paceklik di istilahnya Asian Games. Sudah 26 tahun kita belum berhasil mencatat suatu medali. Ini waktunya untuk kita memecahkan rekor.”

Menurutnya, fondasi kekuatan di SEA Games sudah relatif stabil. Namun untuk naik kelas di Asia, peningkatan catatan waktu dan kualitas teknik menjadi faktor krusial, terutama untuk menembus standar kualifikasi A internasional.

Strategi utama yang diterapkan adalah pendekatan Long Term Athlete Development (LTAD), yakni sistem pembinaan berjenjang yang menekankan kesinambungan performa sejak usia dini hingga elite.

“Untungnya ini bukan sesuatu yang instan. Kita bersama-sama telah membuat LTAD, singkatan dari Long Term Athlete Development, yang terlihat di atlet-atlet muda.”

Model LTAD dirancang untuk memastikan atlet tidak hanya kompetitif dalam satu siklus event, tetapi mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Pendekatan ini juga selaras dengan roadmap menuju Asian Games 2026 dan siklus Olimpiade berikutnya.

Beberapa atlet muda yang dinilai memiliki potensi lompatan prestasi antara lain Masniari Wolf, Cantika Putri Kirana, serta Felix Viktor Iberle.

“Nah ini semua benar-benar mempunyai potensi untuk membuat lompatan dan mereka masih dalam usia yang muda dan bisa berkelanjutan.”

Regenerasi juga tidak hanya terjadi di nomor renang. Polo air menjadi contoh keberanian federasi dalam memberi ruang kepada pemain muda meski berada dalam tekanan kompetisi regional.

“Bahkan tidak hanya di renang. Seperti contoh saja di polo air, sembilan dari pemain tim itu kita berani main muda walaupun Indonesia ini ternyata tim yang senior menang emas. Ini contoh keberpihakan kepada masa depan untuk kualifikasi Indonesia.”

Langkah tersebut menunjukkan orientasi jangka panjang, bukan sekadar mempertahankan dominasi kawasan. Dengan kombinasi pembinaan usia muda, penguatan sport science, dan evaluasi catatan waktu, federasi berharap momentum Asian Games kali ini menjadi titik balik sejarah.