logo
Video Terbaru
  • HOME
  • NEWS
  • SHOWBIZ
  • BOLA
  • HEALTH
  • BISNIS
  • CITIZEN6
  • GLOBAL
  • TEKNO
  • LIFESTYLE
  • OTOMOTIF
  • REGIONAL
logo
  • Home
  • News
  • Showbiz
  • Bola
  • Health
  • Bisnis
  • Citizen6
  • Global
  • Tekno
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Regional
logoTrustworthyIFCN
KontakRedaksiDisclaimerKode EtikPedoman Media SiberSitemapForm PengaduanTentang KamiKarirMetode Cek FaktaHak Jawab dan Koreksi Berita
  • Liputan6
  • Merdeka
  • Bola.com
  • Bola.net
  • Fimela
  • Kapanlagi.com
  • Brilio
Connect with us

Copyright © 2026 Liputan6.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.

Badai Musim Dingin Lumpuhkan AS, 11 Ribu Penerbangan Dibatalkan

Global26 Januari 2026
Y
OlehYoga Nugraha
Diperbaharui 30 Jan 2026, 22:45 WIB
Diterbitkan 26 Jan 2026, 12:05 WIB
Copy Link
Batalkan

Dari udara, terlihat kehancuran Tacloban. Wilayah itu menjadi daerah terparah akibat topan Haiyan di Filipina pada 8 November 2013.Para juru kamera mendekati jendela, mengambil gambar. Para reporter yang tak kebagian jendela, bertahan di atas karung-karung beras bantuan. Pesaawat Hercules TNI AU yang kami tumpangi tak hanya membawa barang bantuan dan para jurnalis. Terdapat juga puluhan pengungsi asal Tacloban yang hendak kembali. Wajah tak sabar puluhan pengungsi, yang terdiri dari bocah dan kaum dewasa ini, tampak. Ingin segera pesawat mendarat. Mereka pergi ke Cebu untuk membeli kebutuhan pangan dan keperluan lain.Setelah 25 menit terbang dari Cebu, pesawat akhirnya mendarat di Tacloban. Di bandara yang porak-poranda itu, kami menyaksikan ribuan pengungsi yang mengantre. Mereka menunggu untuk dievakuasi ke Manila atau Cebu. Kalau ke Manila, mereka biasanya tak bolak-balik ke Tacloban. Berbeda halnya jika hanya ke Cebu. Bukan hanya kaum dewasa, melainkan juga para bayi. "Saya sudah 3 hari mengantre," ujar Ortega, kakek berumur 64 tahun di bandara kota Tacloban, 19 November 2013. Sebenarnya ada 'kesalahan' dia juga. Kala hujan, ia meninggalkan barisan. Saat hujan reda, ia balik ke antrean. tapi, tentu saja dari belakang.Dalam sehari, hanya ada 5-6 pesawat yang terbang ke Tacloban untuk mengevakuasi. Hercules TNI AU yang kami tumpangi terbang Cebu-Tacloban sebanyak dua kali, pulang-pergi. Penerbangan pertama membawa 120 pengungsi, penerbangan kedua mengangkut 94 orang.Perasaan sedih menggelayuti melihat kondisi para pengungsi. Teman-teman pun mengumpulkan cadangan makanan dan dan air minum untuk diberikan kepada para pengungsi. Puluhan bungkus cokelat kami pun habis diambil anak-anak pengungsi. Dengan bahasa Inggris, saya menawarkan rokok. Hanya dengan beberapa batang rokok, pengungsi yang awalnya jutek jadi mudah tersenyum. Saya pun langsung mengambil momen tersebut untuk mengobrol mengenai masalah yang dihadapi mereka.Setelah sejam bersama pengungsi di bandara, kami pun melanjutkan perjalanan ke Desa Fatima. Desa yang berdekatan dengan bandara ini hampir semua bangunannya hancur. Seorang warga desa Fatima mengaku, ratusan tetangganya menjadi korban, meninggal atau luka-luka. Mereka juga menunjukkan tempat menaruh jenazah korban di empat titik. Hingga hari kesebelas, puluhan mayat yang saya lihat di dekat kantor polisi setempat belum juga dimakamkan. Miris. Aroma jenazah masih tercium hingga radius 200 meter. Salah seorang jurnalis televisi swasta pun hampir muntah ketika melihat tangan yang sudah membusuk dan kaki yang hancur.Bersama fotografer lain, saya mencoba berjalan di rawa-rawa sekitar desa. Namun beberapa polisi menghentikan langkah dan menggiring kami ke jalan raya. Ia mengatakan di rawa masih banyak mayat yang belum dievakuasi."Nanti mayatnya terinjak, malah jadi penyakit untuk Anda," ucap seorang anggota polisi. Selesai melihat jenazah, kami melanjutkan perjalanan melihat kondisi air di desa ini. Di Desa Fatima, ada 3 pompa air manual, namun hanya 1 yang berfungsi. Di Tacloban, air sangat berharga. Laptop, telepon genggam, uang, dan benda berharga lain jika ditinggalkan mungkin tidak hilang. Namun jika ada botol berisi air, meski tinggal sedikit isinya, pasti raib.Akibat bencana tersebut pasokan air bersih sangat susah apalagi harus berhadapan dengan terik matahari. Dalam 4 jam, saya menghabiskan 1,5 liter air untuk minum. Tiba di pompa air manual, saya melihat 3 anak kecil membawa sepeda becak. Anak wanita berumur 12 tahun memimpin 2 adiknya mandi dan mengambil beberapa botol air di pompa manual ini. Mereka pun harus berjuang melewati jarak 2 km."Untuk sehari-hari, kami hanya mendapat jatah 3 gelas air," ujar gadis pemalu ini.Usai meliput di Desa Fatima, saya kembali ke bandara untuk mengikuti proses evakuasi pengungsi oleh TNI AU. Di sini saya bangga memiliki TNI yang berjiwa kepahlawanan. Sambil menunggu malam, saya meluangkan waktu memotret bantuan asing yang masuk dan aktivitas para pengungsi. Di kota Tacloban, pemerintah Filipina memberlakukan jam malam dari pukul 20.00 hingga 05.00. Jam malam ini untuk mengurangi kriminalitas dan dipakai para petugas dan relawan untuk membersihkan jalan-jalan dari reruntuhan bangunan. (Yus) Baca juga:Perjalanan ke Roxas, `Diplomasi Rokok`, dan Bantuan yang TelatMenumpang Hercules, Menuju Tanah Bencana

  • Amerika Serikat
  • Badai Salju
  • Penerbangan Dibatalkan
  • news05:00
    Banjir Hebat di Maroko Sebabkan Lebih dari 100 Ribu Warga Dievakuasi
    Global2 jam yang lalu
  • news04:28
    Sedang Nyelonong ke Dalam Supermarket, Tragedi Maut di Westwood
    Global4 jam yang lalu
  • news05:12
    Banjir Terjang Andalusia, Hujan Deras Lumpuhkan Aktivitas Warga
    Globalsehari yang lalu
  • news02:18
    Upaya Pemerintah Jerman Penuhi Kebutuhan Sosial Warganya, Semua Serba Gratis?
    Globalsehari yang lalu
  • news06:14
    Bill Gates Akui "Bodoh" Pernah Bertemu Jeffrey Epstein
    Globalsehari yang lalu
  • news03:05
    Serangan Udara Israel Hantam Desa di Lebanon Selatan
    Global2 hari yang lalu
  • news01:08
    Diplomasi Panda Berakhir, Jepang Kembalikan Xiao Xiao dan Lei Lei ke China
    Global2 hari yang lalu
  • news04:15
    Pajak Rokok Dinaikkan Pemerintah, India Bidik Penurunan Konsumsi Tembakau
    Global2 hari yang lalu
  • news06:10
    Putra Mahkota Gadhafi Tewas, Seif Al Islam Dibunuh di Zintan?
    Global2 hari yang lalu
  • news06:47
    Demo Besar di Turin Memanas, Polisi dan Warga Saling Serang!
    Global4 hari yang lalu