Ramadhan Sananta, Hokky, hingga Raven Belum Setara Ole Romeny, Krisis Striker Timnas Indonesia Belum Usai

Bola2026-03-21 12:00:00
OlehBayu Kurniawan Santoso
Diperbaharui 21 Mar 2026, 12:00 WIB
Diterbitkan21 Mar 2026, 12:00 WIB

Timnas Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan klasik di lini depan jelang FIFA Series 2026. Di tengah target meraih gelar juara, krisis striker masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Dalam turnamen yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), skuad Garuda diharapkan tampil maksimal. Namun, dari komposisi pemain yang ada, hanya satu nama yang dinilai benar-benar siap menjadi andalan, yakni Ole Romeny.

Sejumlah nama seperti Ramadhan Sananta, Hokky Caraka, Mauro Zijlstra, hingga Jens Raven memang masuk dalam skuad. Akan tetapi, berdasarkan penilaian pengamat, mereka belum berada di level yang sama dengan Romeny sebagai target man utama.

Situasi ini membuat ketergantungan terhadap Romeny menjadi sangat tinggi. Jika sang striker tidak dalam performa terbaik atau absen, lini depan Timnas Indonesia berpotensi kehilangan daya gedor.

Masalah ini bukan hal baru. Sejak era kepelatihan Shin Tae-yong hingga kini ditangani John Herdman, persoalan produktivitas lini depan kerap menjadi sorotan.

Sebagai langkah jangka panjang, PSSI disebut tengah menyiapkan opsi naturalisasi untuk menambah kekuatan di sektor tersebut. Salah satu nama yang mencuat adalah Dean Zandbergen, striker yang bermain di Eropa dan dinilai memiliki potensi sebagai pelapis ideal.

Namun, proses naturalisasi tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Artinya, pada FIFA Series 2026 nanti, Timnas Indonesia masih harus mengandalkan komposisi pemain yang ada saat ini.

Dalam turnamen tersebut, Indonesia dijadwalkan menghadapi St. Kitts and Nevis di laga pertama. Jika berhasil menang, Garuda akan melaju ke final dan bertemu pemenang antara Bulgaria dan Kepulauan Solomon.

Dengan format turnamen yang singkat, hanya dua pertandingan, tekanan untuk meraih hasil maksimal menjadi sangat besar. Kondisi ini membuat efektivitas lini depan menjadi faktor krusial.

Kini, perhatian tertuju pada Ole Romeny. Mampukah ia menjadi solusi jangka pendek bagi Timnas Indonesia? Atau justru krisis striker kembali menjadi penghambat langkah Garuda meraih gelar?