logo
Video Terbaru
  • HOME
  • NEWS
  • SHOWBIZ
  • BOLA
  • HEALTH
  • BISNIS
  • CITIZEN6
  • GLOBAL
  • TEKNO
  • LIFESTYLE
  • OTOMOTIF
  • REGIONAL
logo
  • Home
  • News
  • Showbiz
  • Bola
  • Health
  • Bisnis
  • Citizen6
  • Global
  • Tekno
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Regional
logoTrustworthyIFCN
KontakRedaksiDisclaimerKode EtikPedoman Media SiberSitemapForm PengaduanTentang KamiKarirMetode Cek FaktaHak Jawab dan Koreksi Berita
  • Liputan6
  • Merdeka
  • Bola.com
  • Bola.net
  • Fimela
  • Kapanlagi.com
  • Brilio
Connect with us

Copyright © 2026 Liputan6.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.

Sepak Bola di Spanyol: Cinta Klub yang Diwariskan Turun-Temurun

Bola4 jam yang lalu
B
OlehBayu Kurniawan Santoso
Diperbaharui 28 Jan 2026, 10:01 WIB
Diterbitkan 28 Jan 2026, 09:59 WIB
Copy Link
Batalkan

Sepak bola di Spanyol tidak hanya tumbuh di stadion dan lapangan hijau. Ia berkembang di ruang keluarga, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan menjadi bagian dari identitas sosial masyarakatnya. Gambaran tersebut terungkap dalam studi LALIGA bertajuk 42 Legacies, 42 Ways of Winning. Riset ini menyoroti bagaimana kecintaan terhadap sepak bola di Spanyol tidak hadir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses panjang dalam lingkungan keluarga. Studi tersebut mencatat, empat dari sepuluh warga Spanyol mulai mengikuti sepak bola karena pengaruh langsung orang tua. Ayah atau ibu menjadi sosok pertama yang memperkenalkan klub, rivalitas, hingga makna kemenangan dan kekalahan. Bagi sebagian besar penggemar, pengalaman awal mencintai sepak bola justru terjadi di rumah. Menonton pertandingan bersama keluarga, mendengar cerita masa lalu, hingga menyerap emosi dari generasi sebelumnya menjadi fondasi utama lahirnya loyalitas terhadap klub. Sebanyak 52 persen responden meyakini kecintaan terhadap sepak bola bukanlah kebetulan, melainkan warisan yang diturunkan. Klub tidak sekadar tim yang didukung, tetapi simbol identitas keluarga yang dijaga lintas generasi. Menariknya, pewarisan ini tidak selalu berjalan satu arah. Studi LALIGA juga mencatat fenomena reverse legacy, ketika kecintaan terhadap sepak bola justru datang dari generasi muda. Sekitar delapan persen responden mengaku mulai mengikuti sepak bola karena pengaruh anak, keponakan, atau cucu. Fenomena tersebut cukup menonjol di wilayah seperti Katalonia dan Kepulauan Balearic, di mana sepak bola menjadi medium yang mempertemukan emosi lintas usia dalam keluarga. Peran perempuan dalam pewarisan sepak bola juga semakin signifikan. Sebanyak 16 persen penggemar menyebut kecintaan terhadap klub mereka berasal dari ibu, nenek, atau saudari perempuan. Data ini menegaskan bahwa sepak bola bukan lagi ranah eksklusif laki-laki, melainkan tradisi keluarga yang dijaga bersama. Dalam konteks ruang sosial, rumah tetap menjadi tempat utama menonton pertandingan. Namun, bar dan stadion tetap memegang peran penting sebagai ruang kebersamaan. Menyaksikan laga bersama pasangan, anak, hingga orang tua menjadi ritual yang memperkuat ikatan emosional terhadap klub. Di antara 42 klub LALIGA, beberapa tim seperti Real Madrid dan Sevilla FC dikenal memiliki basis pendukung yang kuat secara turun-temurun. Sementara klub lain, seperti Real Betis, menonjol dalam ikatan lintas generasi yang erat dan konsisten. Direktur Merek dan Strategi Global LALIGA, ngel Fernndez, menilai warisan emosional ini sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Spanyol. Bukan sekadar trofi atau prestasi, melainkan cerita yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Sepak bola di Spanyol akhirnya menjadi lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah cerita keluarga yang terus diceritakan, dari tribun stadion hingga ruang tamu, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

  • La Liga
  • Liga Spanyol
  • 42 Legacies
  • 42 Ways of Winning
  • berita video
  • Video Bola.com