Loading iframe...

Isu BRI Super League Settingan, Ini Tanggapan Ketum Jakmania

Bola 09 Mar 2026, 18:59 WIB

Ketua Umum Jakmania, Diky Soemarno, menanggapi isu yang menyebut kompetisi BRI Super League sebagai liga yang telah diatur atau “settingan”. Ia mengajak para suporter untuk tetap berpikir positif dan menjaga suasana kompetisi sepak bola nasional tetap sehat.

Menurut Diky, anggapan bahwa pertandingan sepak bola diatur tanpa dasar yang jelas justru dapat memicu kecurigaan antar suporter. Hal tersebut berpotensi merusak atmosfer kompetisi yang seharusnya berjalan secara sportif. 

“Karena ini masih bulan Ramadan, sebaiknya kita berpikir positif terhadap segala sesuatu. Kalau kita terus berpikir negatif, itu tidak akan ada habisnya,” ujar Diky di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Ia menegaskan bahwa jalannya pertandingan sepak bola ditentukan oleh pemain di lapangan, bukan oleh teori konspirasi yang sering beredar di media sosial.

Menurutnya, jika kompetisi benar-benar diatur, maka hasil pertandingan akan selalu berpihak pada tim tertentu. Namun faktanya, hal tersebut tidak terjadi.

Sebagai contoh, Diky menyinggung hasil pertandingan yang pernah dialami Persija Jakarta saat menghadapi Arema FC di kandang sendiri.

“Persija pernah kalah 0-2 dari Arema di GBK. Kalau memang semuanya diatur, seharusnya Persija selalu menang di kandang. Tapi kenyataannya tidak seperti itu,” jelasnya.

Selain kekalahan tersebut, Persija juga beberapa kali meraih hasil imbang di kandang sepanjang musim. Menurut Diky, hal itu menunjukkan bahwa pertandingan berjalan secara kompetitif dan tidak selalu berpihak pada satu tim.

Diky juga mengingatkan agar suporter tidak mudah menggiring opini yang belum tentu benar. Ia menilai penyebaran isu tanpa dasar dapat memicu perpecahan di antara komunitas pendukung klub.

“Jangan saling curiga atau menuduh. Opini yang tidak mendasar sebaiknya tidak digiring ke publik. Sepak bola harus berjalan dengan fair dan kita sebagai fans juga harus menjaga sisi fairness itu,” katanya.

Ia menambahkan, jika memang ada dugaan pelanggaran dalam kompetisi, seharusnya hal tersebut dibuktikan melalui jalur resmi dan berdasarkan fakta.

“Kalau memang ada bukti, silakan dibuktikan. Tapi jangan semua hal langsung dikaitkan dengan sesuatu yang bisa memecah belah suporter,” ujar Diky.

Diky berharap seluruh suporter sepak bola Indonesia dapat menjaga suasana kompetisi tetap kondusif sehingga rivalitas antar klub tetap berlangsung sehat dan sportif.

Oleh Abdul Aziz Diperbaharui 09 Mar 2026, 18:59 WIB
Diterbitkan 09 Mar 2026, 18:59 WIB